Dua Komisaris GIAA Diduga Tersulut Motif Politik

by

Neracabisnis.com, Jakarta, 28 Aplril 2019 – Penolakan dua komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. untuk menandatangani Laporan Keuangan 2018, menguatkan spekulasi politik. Ada campur tangan elit politik melalui pemegang saham untuk membuktikan salah satu isu dalam kampanye.

Situasi tak lazim itu terjadi pada Rabu, 24 April 2019 di Hotel Pullman, Jakarta, saat gelaran Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2018. Dua komisaris itu menolak laporan keuangan. Masing-masing Chairal Tanjung yang mewakili PT Trans Airways, bagian dari CT Corp, dan Dony Oskaria mewakili Finegold Resources Ltd, yang menguasai 28,08 % saham emiten berkode saham GIAA itu.

Penolakan tersebut ditunjukkan dengan tidak menandatangani laporan keuangan. Keduanya menjadi minoritas. Sebab saat voting mengenai persetujuan atas laporan keuangan, 31,3 % pemegang saham menolak menyetujui.

Salah satu perwakilan pemegang saham meminta dibacakan alasan penolakan tersebut. Namun disenting opinion dari dua komisaris itu urung dibacakan. Mayoritas pemegang saham setuju atas laporan keuangan hingga ketok palu oleh ketua sidang, Komisaris Utama Agus Santoso. RUPS juga memutuskan pergantian direksi dan komisaris.

Penyebab ketidaksetujuan dua komisaris atas laporan keuangan menjadi tanda tanya besar. Termasuk motivasi yang mendorong dibacakannya disenting opinion dalam RUPS. Kesannya, ini tak sekadar masalah akuntansi semata. Sebagai perusahaan terbuka, persoalan internal yang terpublikasi tentunya akan berpengaruh pada nilai saham perusahaan bersangkutan.

Tindakan dua komisaris ini karuan saja memengaruhi opini pasar. Kini, banyak pihak menduga-duga motif yang melatari isu ini. Motivasi ekonomi mencuat kuat. Penurunan harga saham tentunya akan mengurangi nilai aset yang dipegang CT Corp, kecuali apabila CT Corp berniat memborong sisa saham di publik. Penurunan harga saham tentunya mempermudah pengambilan saham dari pihak lain.

Namun motivasi justru motivasi yang terkesan sangat dominan. Tidak jelas keuntungan politik apa yang ingin diraih. Pilpres sudah usai, tapi kubu Capres Prabowo-Sandi acapkali menyerang BUMN. Garuda salah satunya. Garuda disebut sebagai BUMN yang hancur dan merugi. Penolakan atas laporan keuangan oleh dua komisaris seakan-akan menjadi pembuktian pernyataan kubu Prabowo-Sandi. Mengingat afiliasi CT Corp yang dekat dengan partai politik pendukung pasangan capres ini, maka muatan politik itu terlihat jelas. Neracabisnis.com/Helmi MZ

Comments

comments

About Author: Helmi Hendiarto

Gravatar Image

Helmi Hendiarto MZ, adalah jurnalis yang memiliki pengalaman panjang baik di media cetak hingga kini menekuni dunia media online.